The Platform : Ketika Isu "Spontanous Solidarity" Diangkat Dalam Cerita Yang Menarik #NontonApaHariIni
Film "The Platform" merupakan sebuah film garapan Galder Gaztelu-Urrutia yang tayang di Netflix mulai 20 Maret 2020. Film ini dengan kuat mengangkat isu mengenai "Spontanious Solidarity", yang mana dalam film ini solidaritas yang dimaksud digambarkan dalam bentuk makanan.
Berikut merupakan sinopsis singkat mengenai film ini ;
Goreng bangun di sebuah tempat misterius, penjara yang kejam, jumlah level yang tidak diketahui.Di sana, makanan diturunkan dengan sebuah Platform. Ketika orang-orang di atas menjadi egois dan makan apa pun yang mereka inginkan, sedangkan orang-orang di bawah tidak mendapatkan makanan sama sekali. Sebuah perjuangan yang tidak manusiawi untuk bertahan hidup, tetapi juga kesempatan untuk solidaritas.
Lalu, apa yang menarik dari film ini?
Setiap bulan, mereka akan ditempatkan di level yang baru. Tentunya, semua penghuni penjara mengerikan tersebut sangat ingin berada di level atas, karena makanan didatangkan dari atas. Orang-orang yang menghuni level atas akan mendapatkan makanan terlebih dahulu, dan artinya mereka masih berkesempatan untuk mendapatkan makanan. Mereka yang berada di level bawah hanya bisa berharap bahwa, platform berisi makanan yang sampai di level mereka masih tersisa sedikit makanan walaupun hanya sesuap. Namun, apakah mereka yang berada di atas tahu berapa tingkat/level di bawah mereka? Tidak. Mereka semua yang berada di dalam penjara itu tidak tahu berapa tingkat penjara tersebut sampai mereka merasakannya sendiri.
Goreng pernah berada di level 48 dan masih dapat merasakan makanan. Ia juga pernah merasakan berada di level 171, kehabisan makanan, dan hampir mengorbankan kakinya untuk dimakan bersama satu teman di level 171. Lalu, bagaimana yang berada di level 172, 173, dst?
Mati , mencoba bertahan hidup dengan harapan bulan depan mereka ditempatkan di level atas, sehingga masih tersisa makanan, atau menjadi kanibal.
Setelah membaca sampai sini, apa yang kamu pikirkan? Apakah kamu merasa ada yang salah dengan administrator penjara mengerikan ini? Atau menurutmu , seharusnya mereka menyiapkan makanan yang lebih banyak agar makanan masih dapat tersisa, bahkan sampai ke level paling bawah?
Iya, saya juga sempat berfikir demikian. Namun, bagaimana bila saya berkata, "Sebanyak apapun kamu menambahkan makanan di atas platform, mereka yang berada di level bawah tidak akan tersisa satu suap-pun untuk dimakan". Setelah mendegarnya, apakah kamu setuju?
Suatu hari, seorang administrator dari penjara tersebut dengan sukarela mengajukan dirinya untuk masuk sebagai penghuni dari penjara. Pada suatu waktu, ia berada di level yang sama dengan Goreng. Goreng menanyakan pertanyaan yang sama persis, yaitu "Mengapa kalian memberikan terlalu sedikit makanan, apakah kamu tahu betapa menderitanya aku berada di level bawah dan tidak makan sama sekali selama 1 bulan penuh?". Mantan administrator tersebut menjawab, “That's enough food for all these people, but they eat a lot more than they actually need”. Makanan tersebut sebenarnya akan cukup untuk seluruh penghuni penjara bila semua orang di dalam penjara tersebut hanya makan sesuai dengan kebutuhan mereka.
Namun sayangnya, mereka tidak memedulikan itu. Mereka seenaknya makan sebanyak mungkin dan merasa bahwa itu adalah haknya untuk makan sepuasnya. Mereka selalu beralasan bahwa mereka berhak untuk makan sepuasnya karena bulan lalu mereka telah sangat menderita karena tidak bisa makan sama sekali. Ketika berada di level atas, mereka bahkan enggan untuk puasa 1 hari, padahal bukankah sebelumnya mereka pun mampu untuk puasa selama sebulan penuh?
Dari sini kamu bisa tahu, bahwa pada poin itu mereka makan bukan karena mereka butuh. Mereka tidak berpuasa bukan karena mereka tidak bisa.
Teman satu sel Goreng, si administrator itu selalu menyebutkan konsep solidaritas spontan. Dia berpikir bahwa solidaritas dapat dan harus muncul, dan bahwa itu adalah satu-satunya cara yang mungkin untuk bertahan dari kondisi tersebut. Tapi bagaimana solidaritas bisa muncul secara spontan? Di antara orang asing, pesaing, dan bahkan musuh?
Dalam Solidaritas Orang Asing, Jodi Dean mengemukakan bahwa ada tiga macam solidaritas. Pertama, solidaritas mungkin timbul dari kasih sayang. Kedua, solidaritas mungkin muncul dari tujuan bersama. Menurut Dean, kita juga dapat memiliki solidaritas reflektif, “pengharapan bersama akan orientasi yang bertanggung jawab terhadap hubungan … [yang] bergantung pada intuisi bahwa risiko ketidaksepakatan dengan keragaman yang menyertai harus ditransformasikan secara rasional untuk memberikan dasar bagi ikatan intersubjektif kita dan komitmen”.
Saya mengartikan Dean bahwa solidaritas tidak perlu bergantung pada kasih sayang atau tujuan bersama. Sebaliknya, solidaritas dapat didasarkan hanya pada harapan yang kita miliki terhadap orang lain dan tanggung jawab kita untuk memenuhi harapan orang lain. Seperti yang disarankan mantan administrator itu, mungkin solidaritas bisa muncul secara spontan jika kita merenungkan apa yang kita berutang satu sama lain hanya sebagai sesama manusia.
Namun, saya sendiri masih tidak dapat begitu percaya dengan Dean akan 3 macam solidaritas orang asing tersebut. Banyak sekali bentuk ketidak-solidaritas-an yang tidak dapat saya temukan akarnya dari apa yang dikatakan Dean. Misalnya saja kasus dalam film tadi, atau tindakan rasis di berbagai negara yang seringkali berakhir dengan tragis.


Comments
Post a Comment